EFEKTIVITAS TEHNIK RELAKSASI GUIDED IMAGERY PADA IBU HAMIL UNTUK MENURUNKAN PREEKLAMPSIA DI PUSKESMAS KOTA TIMUR
DOI:
https://doi.org/10.35270/743nrk93Kata Kunci:
Guided Imagery, Preeklampsia, Ibu Hamil, Relaksasi, Tekanan DarahAbstrak
Latar belakang: Preeklampsia masih menjadi penyebab utama kematian ibu dan janin di Indonesia. Intervensi nonfarmakologis seperti teknik relaksasi guided imagery dapat menjadi alternatif dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik relaksasi guided imagery dalam menurunkan gejala preeklampsia pada ibu hamil.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra eksperimen dengan pendekatan pre-post test group design. Metode pengumpulan data melalui pengkajian pada ibu hamil menggunakan format pengkajian ibu hamil. Pengolahan data ini menggunakan analisis statistik dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 15 ibu hamil dengan preeklampsia ringan yang memenuhi kriteria inklusi di Puskesmas Kota Timur. Intervensi dilakukan dalam beberapa sesi, dan data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah, proteinuria, dan edema sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan nilai rerata dan median.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan guided imagery, pada indikator tekanan darah sistolik minimal 140 mmHg, maksimum 160 mmHg, mean 144 mmHg dan median 140 mmHg. Tekanan darah diastolik minimal 90 mmHg, maksimum 100 mmHg, mean 93,3 mmHg dan median 90 mmHg. Sedangkan proteinurea minumum (+) dan maksimum (++), edema minimum (-) dan maksimum (+). Sesudah dilakukan tehnik relaksasi guided imagery, terjadi perubahan yaitu pada indikator tekanan darah sistolik minimal 120 mmHg, maksimum 140 mmHg, mean 123,3 mmHg dan median 120 mmHg. Tekanan darah diastolik minimal 80 mmHg, maksimum 90 mmHg, mean 82,0 mmHg dan median 80 mmHg. Sedangkan proteinurea minumum (+) dan maksimum (++), edema minimum (-) dan maksimum (+).
Kesimpulan: Teknik relaksasi guided imagery efektif menurunkan gejala preeklampsia pada ibu hamil, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif terapi nonfarmakologis di pelayanan antenatal




