DAMPAK PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KETERAMPILAN PERTOLONGAN PERTAMA PMR PADA IMOBILISASI FRAKTUR DI SMA N 1 KARANGRAYUNG
DOI:
https://doi.org/10.35270/xxjaev05Kata Kunci:
Pendidikan kesehatan, keterampilan, pertolongan pertama, fraktur, pembidaianAbstrak
Latar Belakang: Fraktur merupakan cedera yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius. Menurut WHO (2020), insiden fraktur global mencapai 2,7% atau sekitar 13 juta kasus. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (2020) melaporkan prevalensi sebesar 5,8% atau sekitar 8 juta kasus, dengan angka kematian mencapai 25.266 kasus (BPS, 2020). Salah satu tindakan pertolongan pertama yang penting adalah imobilisasi dengan bidai. Namun, masih banyak individu yang belum memiliki keterampilan yang memadai dalam melakukan teknik pembidaian yang benar. Rendahnya pengetahuan tentang pertolongan pertama pada fraktur dapat menyebabkan kematian dan kecacatan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan keterampilan penanganan awal pada kasus fraktur.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan pertolongan pertama dalam pembidaian pada kasus fraktur.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan desain pretest-posttest control group. Sampel sebanyak 25 siswa dipilih dari populasi 50 anggota PMR menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi untuk menilai pengetahuan, sikap, dan tindakan.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan berhasil meningkatkan keterampilan responden. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p untuk pengetahuan, sikap, dan tindakan sebesar 0,000 (<0,05).
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan terbukti berpengaruh signifikan dalam meningkatkan keterampilan pertolongan pertama pada kasus fraktur, khususnya teknik pembidaian.




